Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS)
https://jilts.poltekkes-mataram.id/index.php/home
<div style="width: 580px; border: 1px dotted #000; margin-bottom: 10px;"> <ul> <li><strong>e-ISSN: <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20221026170881604">2963-4687</a> (<em>Online</em>)</strong></li> <li><strong>DOI: 10.32807/jilts</strong></li> <li><strong>URL: </strong> <a href="https://jilts.poltekkes-mataram.id/">http://jkp.poltekkes-mataram.ac.id/</a></li> </ul> </div> <p><img style="width: 290px; padding-right: 10px;" src="https://jilts.poltekkes-mataram.id/public/site/images/adminojs/jilts-rev.jpg" alt="" height="395" align="left" /></p> <p>JILTS: (Journal of Indonesia Laboratory Students) ; is a scientific journal published with a view to facilitating academics and researchers to publish their research results in the field of SCIENCE and Medical Technology Laboratories. This journal has <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20221026170881604">E-ISSN 2963-4687</a> and This journal is Open Access and can be downloaded for free.</p> <p>Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) is a journal by Medical Laboratory Technology (MLT) Poltekkes Kemenkes Mataram, JILTS was published in 2022 and encourage students to get involved in research, JILTS adopts double-blind peer review policy concerns on various health fields, such us:</p> <ul> <li>Cytohistotechnology</li> <li>Microbiology</li> <li>Hematology</li> <li>Clinical Laboratory</li> <li>Parasitology</li> <li>Immunology</li> <li>Toxicology</li> </ul> <p>Interested in submitting to this journal? We recommend that you review the <a href="https://jilts.poltekkes-mataram.id/index.php/home/about">About the Journal</a> page, as well as the Author Guidelines. Authors need to <a href="https://jilts.poltekkes-mataram.id/index.php/home/user/register?source=">register</a> with the journal prior to submitting or, if already registered, can simply <a href="https://jilts.poltekkes-mataram.id/index.php/home/login">log in</a> and begin the five-step process.</p> <p><strong>Indexed by:</strong></p> <p><a href="https://scholar.google.com/citations?hl=id&view_op=list_works&authuser=8&gmla=AJsN-F5gRuMXm3Elb3FPKn8jFru7i1wlOEH8qp5siUyrDGGP8VQTlCHEmqxC7T43n8PZnlJgpZTd71Q5Z_90bvUrrPEtqmUdXosUHxIFeldCqDJ9jWDicGI&user=FYYXQ68AAAAJ" target="_blank" rel="noopener"><img src="https://jilts.poltekkes-mataram.id/public/site/images/adminojs/google-scholar.png" alt="" width="107" height="36" /></a></p>Poltekkes Kemenkes Mataramen-USJournal of Indonesia Laboratory Students (JILTS)2963-4687Analisis Hasil Uji Silang Sediaan (Cross Check) Tuberkulosis Triwulan 1 dan Triwulan 2 2024 yang Dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Pengujian dan Kalibrasi Provinsi NTB
https://jilts.poltekkes-mataram.id/index.php/home/article/view/423
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh <em>Mycobacterium tuberculosis</em> dan masih menjadi masalah kesehatan global, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memiliki beban kasus tinggi. Upaya peningkatan mutu pemeriksaan TB di fasilitas kesehatan dilakukan melalui kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal (PME) dengan metode uji silang (<em>cross check</em>) mikroskopis menggunakan aplikasi E-TBC 12.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Mengetahui perbedaan hasil pembacaan (discordance) PME metode E-TBC 12 triwulan 1 dan 2 tahun 2024 antara fasilitas kesehatan (faskes) pengirim sediaan TB dengan Laboratorium Rujukan Intermediet (LRI) di Provinsi NTB, serta menganalisis kualitas pembuatan dan pembacaan sediaan.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan desain deskriptif kuantitatif menggunakan data sekunder hasil PME uji silang metode <em>Lot Quality Assurance System</em> (LQAS) di Balai Laboratorium Kesehatan Pengujian dan Kalibrasi Provinsi NTB. Sampel penelitian adalah seluruh slide sediaan TB triwulan 1 dan 2 tahun 2024 yang memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan tabulasi dan persentase.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Cakupan faskes yang mengikuti uji silang pada triwulan 1 sebesar 77,87% dan triwulan 2 sebesar 80,33% (belum mencapai target ≥90%). Kinerja baik (tanpa kesalahan) pada triwulan 1 sebesar 96,84% dan triwulan 2 sebesar 99,99%. Kualitas pembuatan sediaan baik pada triwulan 1 sebesar 85,26% dan triwulan 2 sebesar 86,73%. Kualitas pembacaan baik pada triwulan 1 sebesar 96,27% dan triwulan 2 sebesar 94,50%.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Cakupan uji silang belum memenuhi target nasional, meskipun kinerja baik dan kualitas sediaan berada di atas 85%.</p>Mayang Nur MutmarnilaFihiruddinYunan JiwintarumUrip
Copyright (c) 2026 Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS)
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-06-252026-06-255110.32807/jilts.v5i1.423Test Screening Hepatitis A dan Hepatitis B pada Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Alas Barat
https://jilts.poltekkes-mataram.id/index.php/home/article/view/91
<p><strong>Latar Belakang: </strong>Test screening HAVAg dan HbsAg merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi dini infeksi virus hepatitis A dan hepatitis B pada seseorang. Hepatitis sendiri merupakan penyakit peradangan pada hati yang dapat sembuh dengan sendirinya atau berkembang menjadi fibrosis (jaringan parut), sirosis, atau kanker hati. Wilayah Alas Barat masih menjadi wilayah yang memiliki angka infeksi hepatitis yang tinggi serta rendahnya informasi tentang hepatitis dan akses pelayanan laboratorium penanganan kasus hepatitis pada masyarakat sebagai latar belakang masalah.</p> <p><strong>Tujuan Penelitian: </strong>Untuk menganalisis dan mengetahui hasil test screening Hepatitis A dan Hepatitis B pada Masyarakat yang terkena infeksi Hepatitis A dan Hepatitis B.</p> <p><strong>Metode Penelitian:</strong> Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan pengumpulan data yaitu data primer dan sekunder.</p> <p><strong>Hasil: </strong>Test screening pada Hepatitis A menunjukkan bahwa 20 sampel yang telah dilakukan test screening di dapatkan hasil Non-Reaktif/Negatif Hepatitis A (HAVag), sedangkan pada Hepatitis B di dapatkan hasil dari 80 sampel yang telah dilakukan test screening 20 sampel di antaranya menunjukkan hasil Reaktif/Positif Hepatitis B (HbsAg).</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Di wilayah Alas Barat tidak ditemukan virus Hepatitis A dan pada Hepatitis B ditemukan sekitar 25% penduduk Alas Barat terkena infeksi virus Hepatitis B.</p>Febriyanti Rizki Diana Lestari DianaRohmiThomas Tandi ManuSiti Zaetun
Copyright (c) 2026 Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS)
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-04-112026-04-115110.32807/jilts.v5i1.91Analisis Hubungan Hasil Pemeriksaan IgG dan IgM Dengue, Leukosit dan Trombosit Dengan Keputusan Perawatan Pada Pasien Terduga Demam Berdarah di RSUD Kabupaten Lombok Utara
https://jilts.poltekkes-mataram.id/index.php/home/article/view/381
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi akibat virus dengue yang gejalanya bisa sangat beragam, mulai dari ringan hingga berat. Untuk membantu menentukan tingkat keparahan penyakit dan langkah perawatan yang tepat, pemeriksaan laboratorium seperti IgG dan IgM Dengue, jumlah leukosit, dan trombosit sangat dibutuhkan.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan antara hasil pemeriksaan IgG dan IgM dengue, jumlah leukosit, serta trombosit, dengan keputusan dokter dalam merawat pasien DBD, apakah pasien dirawat inap atau cukup rawat jalan.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan observasional analitik. Sebanyak 28 pasien yang dicurigai menderita DBD di RSUD Kabupaten Lombok Utara diikutkan sebagai sampel, yang dipilih secara kebetulan (accidental sampling) selama periode April sampai juni 2025. IgG dan IgM diperiksa menggunakan rapid test, sementara jumlah leukosit dan trombosit diperiksa menggunakan alat hematology analyzer otomatis. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Dari hasil analisis, ditemukan bahwa jumlah trombosit memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan keputusan perawatan (r = -0,805; p = 0,000). Artinya, semakin rendah jumlah trombosit, semakin besar kemungkinan pasien dirawat inap. Sementara itu, IgG menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak signifikan (r = 0,347; p = 0,083), sedangkan jumlah leukosit dan IgM tidak menunjukkan hubungan yang berarti dengan keputusan perawatan.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Dari keempat parameter yang diteliti, jumlah trombosit menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap keputusan perawatan pasien DBD. Oleh karena itu, pemeriksaan trombosit sangat penting untuk membantu dokter dalam menentukan apakah pasien perlu dirawat inap atau bisa dirawat jalan.</p>Avirda AriyatiAgrijantiLalu SrigedeErna KristinawatiPancawati Ariami
Copyright (c) 2026 Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS)
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-04-112026-04-115110.32807/jilts.v5i1.381Perbandingan Hasil Tes Cepat Molekuler (TCM) dan Mikroskopis Pada Penderita Diabetes Melitus
https://jilts.poltekkes-mataram.id/index.php/home/article/view/332
<p><strong>Latar belakang:</strong> Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya infeksi tuberkulosis (TBC). Deteksi dini TBC pada pasien DM sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Dua metode diagnosis yang umum digunakan adalah pemeriksaan mikroskopis dan Tes Cepat Molekuler (TCM). Perbedaan sensitivitas dan akurasi kedua metode ini perlu dievaluasi khususnya pada pasien dengan DM.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) dan mikroskopis dalam mendeteksi TBC pada penderita diabetes melitus.</p> <p><strong>Metode Penelitian:</strong> Penelitian ini menggunakan desain studi observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian dengan jumlah 36 orang pasien Diabetes melitus yang menunjukkan gejala klinis TBC dan memenuhi kriteria inklusi. Setiap subjek dilakukan pemeriksaan dahak menggunakan metode mikroskopis (pewarnaan Ziehl-Neelsen) dan TCM (menggunakan alat GeneXpert MTB/RIF). Hasil dari kedua metode kemudian dibandingkan untuk menentukan tingkat kesesuaian dan perbedaan deteksi menggunakan analisa deskriftif.</p> <p><strong>Hasil Penelitian: </strong>Hasil pemeriksaan TCM menunjukkan bahwa 35 sampel (97,22%) tidak terdeteksi (Not Detected), sementara 1 sampel (2,78%) menunjukkan hasil positif dengan kategori High. Hasil pemeriksaan mikroskopis menunjukkan hasil 35 sampel (97,22%) negatif dan 1 sampel (2,78%) positif dengan hasil BTA 3(+). Kesamaan hasil antara kedua metode menunjukkan adanya kesesuaian 100%.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Hasil Tes Cepat Molekuler (TCM) dan Mikroskopis sama terhadap pemeriksaan pada pasien Diabetes melitus yang beresiko Tuberkulosis.</p>Agus Ikhsan JayadiErshandi ResnhaleksmanaFihiruddinErlin Yustin TatontosLina Sundayani
Copyright (c) 2026 Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS)
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-04-112026-04-115110.32807/jilts.v5i1.332Korelasi Hasil Skrining TB dengan Kadar Gula Darah pada Pasien Diabetes Melitus di RSUD Kabupaten Lombok Utara
https://jilts.poltekkes-mataram.id/index.php/home/article/view/185
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Tuberkulosis (TB) dan Diabetes Melitus (DM) menjadi masalah di dunia utamanya 80% pada negara endemis Tuberkulosis. Penderita diabetes melitus beresiko lebih tinggi untuk berkembang menjadi tuberkulosis dibanding yang tidak DM yaitu sebesar 2,5 kali. (IDF 2021). Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu faktor risiko tersering pada pasien TB paru. Beberapa penelitian menunjukkan dampak diabetes pada tuberkulosis adalah terapi TB yang cenderung gagal dan penderita cenderung meninggal selama terapi dibandingkan yng bukan DM. Keterkaitan TB dengan DM menghendaki intervensi pada kedua penyakit tersebut,untuk meningkatkan deteksi dan mencegah diabetes atau tuberkulosis terkait komplikasi,sehingga perlu dilakukan Screening pemeriksaan TB pada penyandang Diabetes Melitus.</p> <p><strong>Tujuan Penelitian:</strong> Mengetahui korelasi antara pemeriksaan screening TB dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Melitus di RSUD Kabupaten Lombok Utara.</p> <p><strong>Metode Penelitian:</strong> Observasional analitik dengan pendekatan <em>Cross</em> <em>Sectional</em>. Menggunakan data primer dan dianalisa secara statistik dengan uji <em>Spearmen rank</em>.</p> <p><strong>Hasil Penelitian:</strong> Jumlah sampel sebanyak 30 pasien dengan Diabetes melitus.Didapat 16 orang (53.33%) dengan kadar gula darah normal dan 14 orang 46.67%) dengan Gula darah tinggi.untuk pemeriksaan TCM didapatkan 28 orang (93.33%) TCM <em>MTB not detected</em>, 2 orang (6.67.97%) <em>MTB detected. </em>Korelasi hasil pemeriksaan Kadar gula darah degan hasil TCM (p = 0.286 > nilai α= 0,05)</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Tidak terdapat korelasi antara Hasil Screening TB degan Kadar Gula Darah pada pasien Diabetes Melitus.</p>Ni Komang Harmoni SLalu SrigedeAri KhusumaRohmi
Copyright (c) 2026 Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS)
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-06-252026-06-255110.32807/jilts.v5i1.185Gambaran Kadar Protein Urine Pada Atlet Sepakbola Berdasarkan Frekuensi Latihan
https://jilts.poltekkes-mataram.id/index.php/home/article/view/132
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Latihan berlebihan dapat meningkatkan kadar protein <em>urine</em>, menandakan <em>proteinuria</em>. Permainan sepakbola memerlukan kebugaran fisik yang tinggi, maka pada atlet sepakbola perlu dilakukan skreening funsi ginjal.Protein urine merupakan salah satu parameter fungsi ginjal pada urine.Pada penelitian ini akan dilakukan pengamatan hubungan frekuensi latihan terhadap protein urine.</p> <p><strong>Tujuan Penelitian: </strong>untuk mengetahui gambaran kadar protein urine pada atlet sepakbola yang latihan selama 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, 4 minggu, dan 5 minggu setelah latihan, serta menganalisa gambaran kadar protein urine pada atlet sepakbola tersebut.</p> <p><strong>Metode Penelitian: </strong>Pada penelitian ini bersifat observasional analitik dengan teknik pengambilan sampel <em>purposive</em>. Sampel penelitian berjumlah 30 atlet sepakbola, kadar protein urine pada penelitian ini dipriksa menggunakan metode carik celup.</p> <p><strong>Hasil Penelitian:</strong> Rata-rata kadar protein urine atlet sepakbola pada minggu pertama adalah 15,5 mg/dl,minggu kedua 47,17 mg/dl, minggu ketiga yaitu 60,3 mg/dl, minggu keempat 59 mg/dl dan minggu kelima 62,67 mg/dl.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Gambaran kadar protein urine pada atlet sepakbola dengan kadar tertinggi 86 mg/dl dan kadar terendah pada 21 mg/dl.</p>Vivi OktapiaNurul InayatiSiti ZaetunAgrijanti
Copyright (c) 2026 Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS)
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-04-112026-04-115110.32807/jilts.v5i1.132Pengaruh Jumlah Mengonsumsi Kopi Pada Pasien Osteoporosis Terhadap Kadar Kalsium Urin
https://jilts.poltekkes-mataram.id/index.php/home/article/view/406
<p><strong>Latar belakang:</strong> Osteoporosis ditandai dengan penurunan massa tulang dan peningkatan risiko patah<br />tulang. Konsumsi kopi dapat meningkatkan ekskresi kalsium urin sehingga berpotensi memperburuk<br />kondisi osteoporosis. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh jumlah konsumsi kopi terhadap kadar kalsium urin pada pasien osteoporosis.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah mengonsumsi kopi pada pasien<br />osteoporosis terhadap kadar kalsium urin.</p> <p><strong>Metode Penelitian:</strong> Penelitian ini dilaksanakan di RSI Siti Hajar Mataram dan Laboratorium Kimia TLM<br />Poltekkes Kemenkes Mataram pada Juli–September 2025. Desain penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional menggunakan sampel jenuh pada seluruh pasien osteoporosis peminum kopi. Variabel bebas adalah jumlah konsumsi kopi, sedangkan variabel terikat adalah kadar kalsium urin yang diperiksa dengan metode titrasi kompleksometri. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA atau Kruskal-Wallis sesuai distribusi data.</p> <p><strong>Hasil Penelitian:</strong> Rerata kadar kalsium urin pasien yang mengonsumsi 1 gelas per hari berada pada kisaran 212.5 mg/24 jam, kelompok 2 gelas per hari 322 mg/24 jam, dan kelompok 3 gelas per hari 444.8 mg/24 jam. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji One-Way ANOVA, ditemukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada kadar kalsium urin antara kelompok yang mengonsumsi 1, 2, dan 3 gelas kopi per hari.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi jumlah konsumsi kopi, kadar kalsium urin pada penderita osteoporosis cenderung meningkat. Hal ini menegaskan bahwa konsumsi kopi berpengaruh terhadap ekskresi kalsium, sehingga perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan dan penatalaksanaan osteoporosis.</p>Khairal YasminLale Budi Kusuma DewiIda Bagus Rai WiadnyaI Wayan Getas
Copyright (c) 2026 Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS)
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-04-112026-04-115110.32807/jilts.v5i1.406Korelasi Pemeriksaan Alkaliphosfatase (ALP) Dengan Laktat Dehidrogenase (LDH) Terhadap Angka Kejadian Kanker Nasofaring di RSUD Provinsi NTB
https://jilts.poltekkes-mataram.id/index.php/home/article/view/373
<p><strong>Latar Belakang: </strong>Kanker nasofaring (KNF) merupakan salah satu jenis kanker yang berkembang di area nasofaring dan termasuk dalam jenis kanker yang cukup sering dijumpai, khususnya di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Salah satu tantangan dalam penanganan KNF adalah keterlambatan diagnosis dan prognosis yang buruk, terutama pada stadium lanjut. Pemeriksaan biomarker seperti Laktat Dehidrogenase (LDH) dan Alkali Fosfatase (ALP) dinilai memiliki potensi dalam mendeteksi dan mengevaluasi perkembangan kanker. LDH berperan dalam metabolisme anaerobik dan menunjukkan hubungan erat dengan beban tumor serta lingkungan hipoksia, sedangkan ALP berkaitan dengan metabolisme tulang dan keterlibatan kelenjar getah bening pada KNF. Mengingat tingginya angka kejadian dan pentingnya pemeriksaan penunjang dalam penegakan diagnosis serta prognosis KNF, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi antara kadar ALP dan LDH terhadap angka kejadian kanker nasofaring di RSUD Provinsi NTB.</p> <p><strong>Tujuan Penelitian:</strong> Untuk mengetahui korelasi antara ALP dengan LDH terhadap angka kejadian kanker nasofaring di RSUD Provinsi NTB.</p> <p><strong>Metode Penelitian: </strong>Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data sekaligus pada waktu yang sama dengan kriteria pasien KNF yang memeriksakan ALP dan LDH . kemudian dianalisis menggunakan uji statistik untuk membandingkan perbedaan bermakna antar-siklus.</p> <p><strong>Hasil Penelitian:</strong> Didapatkan 45 pasien KNF yang mememenuhi kriteria dan didata untuk hasil ALP pada perempuan 70% normal 30% diatas normal. Pada laki-laki 20% dibawah normal 51.4% normal dan 28.5% diatas normal. Hasil LDH 2.2% dibawah normal 42.2% normal 55.6% diatas normal. Berdasarkan uji statistik Spearman rank didapatkan koefisien sebesar 0,035, karena nilai <0.05 maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada korelasi antara nilai kadar ALP dengan kadar LDH terhadap angka kejadian KNF.</p> <p><strong>Kesimpulan</strong><strong>: </strong>Terdapat hubungan antara hasil enzim ALP dan LDH dengan angka kejadian kanker nasofaring.</p>Viny Ari YantyI Wayan GetasAri KhusumaNurul Inayati
Copyright (c) 2026 Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS)
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-04-112026-04-115110.32807/jilts.v5i1.373Pengaruh Frekuensi Kemoterapi Terhadap Nilai SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) Pada Pasien Yang Menjalani Kemoterapi IV Berbasis Antrasiklin
https://jilts.poltekkes-mataram.id/index.php/home/article/view/287
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Kanker merupakan penyebab utama kematian global, dengan insiden tinggi di Indonesia, termasuk di Provinsi NTB. Kemoterapi berbasis antrasiklin, meskipun efektif, berpotensi menyebabkan hepatotoksisitas yang ditandai dengan peningkatan kadar Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT). Studi terdahulu menunjukkan hubungan antara kemoterapi dan kerusakan hati, namun penelitian spesifik mengenai pengaruh frekuensi siklus kemoterapi antrasiklin terhadap nilai SGPT masih terbatas.</p> <p><strong>Tujuan Penelitian:</strong> Mengetahui pengaruh frekuensi kemoterapi terhadap nilai SGPT pada pasien yang menjalani kemoterapi intravena berbasis antrasiklin.</p> <p><strong>Metode Penelitian: </strong>Penelitian observasional analitik dengan pendekatan Kohort historis dengan teknik samping jenuh pada pasien yang menjalani kemoterapi antrasiklin di RSUP NTB tahun 2024. Data nilai SGPT sebelum kemoterapi (siklus0) dan setelah siklus 1, 2 dan 3 kemoterapi dikumpulkan dari rekam medik, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik untuk membandingkan perbedaan bermakna antar-siklus.</p> <p><strong>Hasil Penelitian:</strong> Didapatkan 20 pasien Ca. Ovarium yang memeuhi kriteria inklusi dan didata rata-rata nilai SGPT siklus 0 (27.8 U/L), siklus 1 (26.5 U/L), siklus 2 (22.4 U/L) dan siklus 3 (20.9 U/L). Berdasarkan uji statistik Friedman dengan tingkat kepercayaan 95%=(α=0.05) diatas diketahui nilai Sig.(2-Tailed) sebesar 0.976, karena Nilai Asymp. Sig. > 0.05 maka dapat ditarik kesimpulan tidak ada perbedaan signifikan antara nilai SGPT sebelum dan setelah melakukan kemoterapi antrasiklin.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Tidak ada pengaruh signifikan antara nilai SGPT setelah melakukan kemoterapi antrasiklin mengindikasikan efek kumulatif terhadap hepatotoksisitas. Namun pemantauan fungsi hati secara berkala dan pertimbangan modifikasi dosis tetap perlu diperlukan untuk mengurangi risiko kerusakan hati.</p>Mira Pramesty CahyaningtyasUripIswari PauziYunan Jiwintarum
Copyright (c) 2026 Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS)
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-04-112026-04-115110.32807/jilts.v5i1.287Differences in Examination Result of Direction And indirect Low Density Lipoprotein Levels (Several Formulas) in Dyslipidemia Patients AT RSUD DR. R. Soedjono Selong
https://jilts.poltekkes-mataram.id/index.php/home/article/view/177
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Dislipidemia merupakan suatu kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan ketidak seimbangan salah satu atau lebih dari empat komponen profil lipid.. Deteksi dini kadar LDL pada kelompok pasien dengan faktor risiko penyakit kardiovaskuler memungkinkan terapi dan tindakan pencegahan dapat dilaksanakan lebih dini. <em>National Cholesterol Education Program-Adult Treatment Panel</em> (NCEP-ATP) merekomendasikan pengukuran LDL sebagai kriteria primer diagnosis penyakit dislipidemia. Pemeriksaan LDL dapat dilakukan dengan metode direk dan indirek. Pemeriksaan LDL metode direk dilakukan secara terbatas di laboratorium di negara berkembang karena biayanya yang masih cukup mahal. Sedangkan pemeriksaan LDL metode indirek dapat dilakukan dengan menggunakan formula hitung sehingga banyak digunakan sebagai alternatif pengganti LDL metode direk.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Mengidentifkasi perbedaan hasil pemeriksaan kadar LDL direk dan indirek (menggunakan beberapa formula) pada pasien dislipidemia di RSUD dr. R. Soedjono Selong</p> <p><strong>Metode:</strong> Jenis penelitian <em>observasional analitik </em> dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Sampel yang digunakan adalah data skunder hasil pemeriksaan profil lipid pasien yang menunjukkan hasil dislipidemia dari populasi pasien yang melakukan pemeriksaan profil lipid bulan oktober 2023 – April 2024 di Laboratorium RSUD dr. R. Soedjono selong. Metode pengambilan sampel adalah metode <em>total sampling</em> dengan jumlah 34 sampel dan dianalisis menggunakan uji one way Anova.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Hasil peneitian didapatkan rerata kadar LDL metode direk 156 mg/dl,rerata kadar LDL indirek formula <em>Friedewald</em> 145 mg/dl, rerata kadar LDL indirek formula <em>Chen</em> 189 mg/dl, dan rerata kadar LDL indirek dengan formula <em>Anandaraja</em> 141mg/dl dan rerata kadar LDL indirek dengan formula <em>Hopskin </em> adalah 152 mg/dl. Uji Anova didapatkan nila sig. (<em>P.value</em>) 0.00 yaitu ≤0.05 yang menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Ada perbedaan yang bermakna antara hasil pemeriksaan kadar LDL direk dan indirek beberapa formula yaitu formula<em> Friedewald</em>, <em>Chen</em>, <em>Anandaraja</em>, <em>Hopskin </em>pada pasien dislipidemia di RSUD dr. R. Soedjono Selong</p>Siti Malika AminiIswari PauziErlin Yustin Tatontos Maruni Wiwin Diarti
Copyright (c) 2026 Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS)
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-06-222026-06-225110.32807/jilts.v5i1.177